Save The Earth

Kerusakan Hutan Riau, Siapa Yang Harus Bertanggung Jawab ?

Kerusakan hutan dimasa sekarang ini memang sungguh sangat memprihatinkan dengan berkurangnya hutan primer dan hutan skunder secara signifikan. Hutan primer dan skunder ini digantikan dengan tanaman industri seperti Hutan tanaman industri (akasia) dan perkebunan kelapa sawit. Menurut data WWF, dalam kurun waktu 25 tahun terakhir, Riau telah kehilangan 4 juta hektar hutan dan tutupan hutannya telah menurun dari 78% pada tahun 1982 ke hanya 28% pada tahun 2007. Deforestasi Riau didorong oleh kebutuhan supplay kayu untuk perusahaan-perusahaan bubur kertas dan juga perluasan industri kelapa sawit. Sebelum membahas kerusakan hutan lebih lanjut, Riau memiliki beberapa fakta-fakta unik yang perlu kita ketahui bersama anatara lain:
  1. Hutan Tesso Nilo yang mempunyai keanaeka ragaman tanaman yang lebih kaya dari pada hutan dataran rendah lain di Dunia.
  2. Hutan Riau adalah salah satu tempat habitat gajah sumatra untuk bertahan hidup.
  3. Hutan Riau adalah salah satu tempat dari dua 'lanskap konservasi harimau prioritas global' yang diidentifikasi oleh ilmuan harimau terkemuka pada tahun 2006 sebagai habitat penting harinau sumatra untuk bertahan hidup.
  4. Riau diperkirakan menyimpan cadangan karbon terbesar di Asia Tenggara dibawah hutan gambutnya.
  5. Hutan Riau adalah rumah dari 120 ekor gajah sumatra dan 192 harimau sumatra.
  6. Riau adalah rumah dua penghasil bubur kertas terbesar di Duniayang dimiliki oleh Asia Pulp & Paper dan APRIL.
  7. Riau telah kehilangan hutan alaminya untuk konsesi tanaman industri kertas dan kelapa sawit lebih besar dari provinsi lain di Indonesia.
  8. Riau telah kehilangan lebih dari 4 juta hektar hutan dalam kurun 25 tahun terakhir atau 65% dari luas asal hutannya.


Gambar 1. Deforestasi berdasarkan wilayah di Sumatra, 1990-2010

Penghujung tahun 2013 Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) merilis catatan bahwa deforestasi huitan semakin meningkat. Sepanjang tahun 2012-2013 total 252,172 hektar hutan alam dihancurkan oleh korporasi berbasis tanaman industri, dibanding tahun sebelumnya deforestasi sebesar 188,000 hektar. Dengan kata lain ada peningkatan sekitar 64,000 hektar lebih deforestasi terjadi dibanding tahun 2012. Kini sisa hutan alam sekitar 1,700,000 hektar atau tinggal 19% dari luas daratan Riau seluas 8,900,000 juta hektar.

"Kerusakan yang terjadi saat sekarang ini mencemirkan buruknya tata kelola kehutanan di Riau karena pemerintah Indonesia membiarkan korporasi menebang hutan alam, merampas hutan tanah rakyat, melakukan praktek korupsi, illegal logging dan perusakan ekologis. Apalagi setiap tahunnya terjadi kebakaran hutan yang sampai sekarang belum menemukan solusi sehingga mengakibatkan pencemaran udara oleh kabut asap. Sikap pembiaran dan tidak menemukan solusi untuk mengatasi kebakaran hutan tentunya menguntungkan pihak pihak tertentu dan merugikan khalayak orang banyak."

Mari kita flashback kembali pada tahun 2008, berdasarkan data WWF bahwa emisi gas rumah kaca yang sangat besar dihasilkan oleh konversi hutan dilahan gambut. Rata-rata jumlah emisi yang berhubungan dengan deforestasi di Riau selama 17 tahun sama dengan 1/4 yang dihasilkan semua negara yang telah menanda tangani Kyoto Protokol sampai tahun 2012.
Lahan gambut adalah tanah yang kaya dan padat dari benda-benda organik terutama tanaman, dikenal dengan "carbon sink" (Buangan Karbon) dimana lahan gambut dapat menyimpan lebih banyak karbon disetiap unit wilayah dari pada ekosistem lain. Walaupun hanaya ada 3-5 % daratan bumi dan permukaan air tanah, lahan gambut menyerap 25-30 % karbon dioksida dunia dan membantu mengurangi gas rumah kaca di atmosfir. Konversi hutan adalah faktor utama yang menyebabkan kerusakandan kebakaran hutan di Indonesia, terutama di wilayah gambut. Selama lima tahun terakhir 14 % dari kebakaran hutan dan lahan di Riau terdapat konsesi-konsesi yang berhubungan dengan salah satu perusahaan Pulp and Paper.


Gambar 2. Peta Keragaman Hayati dan Titik-Titik Panas di Sumatra

Selama adanya pembiaran korporasi menebang hutan alam, merampas hutan rakyat, melakukan praktek korupsi, illegal loging maka permasalahan  hutan di Riau ini tidak akan ada jalan keluarnya sehingga semakin parahnya kerusakan hutan dan semakin menurunnya populasi spesies di dalamnya seperti harimau sumatra, gajah sumatra, dan lain-lain. Dan tentunya tidak ada satu pun pihak yang mau disalahkan, jadi siapa yang harus bertanggung jawab atas kerusakan hutan di Riau?.


Referensi :

  • Savesumatra. Fakta Tentang Riau. http://www.savesumatra.org/index.php/wherewework/detail_location/5. n.d. Di akses 09-08-2015.
  • Mongabay. Laporan: Penebangan Hutan Riau, Potret Buruk Tata Kelola Kehutanan RI. http://www.mongabay.co.id/2014/01/01/laporan-penebangan-hutan-riau-potret-buruk-tata-kelola-kehutanan-ri/. 2014. Di akses 09-08-2015.
  • Nationalgeographic. Eksploitasi Hutan Riau, Potret Buruknya Tata Kelola Kehutanan RI. http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/01/eksploitasi-hutan-riau-potret-buruknya-tata-kelola-kehutanan-ri. 2014. Di akses 09-08-2015.


Share:

Mengenai Saya

Foto saya
Kerinci, Riau, Indonesia
Energi merupakan kebutuhan yang sangat penting di segala aspek kehidupan. mulai dari industri, transportasi,prumahan, dan lain-lain membutuhkan energi. energi yang dominan digunakan sekarang adalah energi bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil tergolong energi tak terbarukan sehingga semakin lama digunakan maka energi ini akan habis. mari kita pikirkan bagaimana energi terbarukan (renewable) dapat dioptimalkan penggunannya untuk saat sekarang ini.

Total Tayangan Halaman

Like and Share