Save The Earth

Potential Biomass of Oil Palm

Dari dulu hingga saat ini manusia telah memanfaatkan biomassa untuk mendukung aktifitas setiap harinya. Biomassa digunakan sebagai sumber makanan manusia, sumber bahan bakar, makanan ternak, dan pupuk. Dan  dizaman modern ini biomassa bisa dijadikan energi listrik. Biomassa memiliki banyak keuntungan anatara lain merupakan energi terbarukan, tersedia dalam bentuk liquid (cair, gas, dan padat), dapat mengurangi GRK, dapat menciptakan pasar industri baru, dan dapat membantu pembangunan kawasan desa.

Menurut Biomass Energy Centre (2011) biomassa dapat didefinisikan sebagai bahan biologis yang berasal dari organisme hidup. Secara kimiawi, biomassa adalah zat berbasis karbon dan terdiri dari campuran molekul organik yang mengandung hidrogen, biasanya juga mengandung atom oksigen, sering kali mengandung nitrogen, dan sejumlah kecil atom lain, termasuk alkali, alkalin tanah dan logam berat. Logam ini sering ditemukan dalam molekul fungsional seperti porfirin yang meliputi klorofil yang mengandung magnesium. Sedangkan menurut Biomas Energy Europe (2010a), biomass didefinisikan sebagai bagian dari suatu produk yang dapat terurai secara biologi, limbah dan sisa dari pertanian (termasuk zat nabati dan hewani), kehutanan dan industri terkait, serta bagian dari limbah industri dan limbah kota yang terdgradasi secara biologis.

Kelapa sawit merupakan salah satu sumber biomassa yang belum digunakan secara optimal. Menurut Biomass Energy Europe (2010a) jenis-jenis biomassa terbagi kedalam empat katagori yaitu Biomassa hutan, Tanaman Energi, Residu pertanian, dan Limbah organik. kelapa sawit termasuk kedalam kategori tanaman energi.


Gambar 1. Kelapa sawit

Ada enam jenis biomassa yang dihasilkan dari proses produksi minyak kelapa sawit, antara lain sebagai berikut :
1. Pelepah Sawit
    Pelepah kelapa sawit dapat dihasilkan pada setipa panen atau pada saat penebangan untuk ditanam kembali. banyaknya pelepah sawit yang dihasilkan pada setiap panen sebesar 10,4 ton per hektar (BFPIC, 2009). Nilai kalori dari pelepah sawit adalah 15,719 Kj/ton (Enreach, 2011).


Gambar 2. Pelepah Sawit
(Sumber: http://www.medanbisnisdaily.com/functs/viewthumb.php?id=pelepah_sawit_untuk_pakan_sapi_181.gif&w=545)


2. Batang sawit
    kelapa sawit mempunyai rata-rata umur sampai dengan 25 tahun. setelah melewati batas umur sawit akan ditebang dan ditanam dengan yang baru. Panjang batang sawit yang sudah ditebang mencapai 7 meter hingga 13 meter dengan diameter 45 cm hingga 65 cm. Dalam satu hektar kelapa sawit yang ditebang menghasilkan  75,5 ton  batang sawit dalam berat kering (BFPIC, 2009).

Gambar 3. Batang Kelapa sawit
(Sumber: http://test.bfdic.com/en/d/file/Features/Features/2009-03-12/a28fe52bcaa97724bb3dd7bb545029ea.jpg)


3. Tandan kosong
    Pada pabrik kelapa sawit, Tandan buah segar diseterilkan melalui proses perontokkan untuk memisahkan buah sawit. Tandan kosong terdiri dari 20%-25% sedangkan buah sawit sebesar 75%-80% disertai duri diujung buah. Berat kering tandan kosong per hektar mencapai 1,6 ton (BFPIC, 2009). Nilai kalori dari tandan kosong adalah 8,16 Kj/ton (Enreach, 2011). Ini memperlihatkan tandan kosong kelapa sawit mempunyai potensi yang besar untuk pemanfaatan energi biomassa

 Gambar 4. Tandan kosong kelapa sawit
(Sumber: http://test.bfdic.com/en/d/file/Features/Features/2009-03-12/a28fe52bcaa97724bb3dd7bb545029ea.jpg)

4. Cangkang buah sawit
    Pada produksi minyak sawit, cangkang yang ada di buah dipissahkan dari serat buah sawit. dalam satu hektar dari buah sawit yang dipanen menghasilkan cangkang sebesar 15,625 ton serta nilai kalori yang dihasilkan adalah 18,83 Kj/ton ( Enreach, 2011).


Gambar 5. Cangkang buah sawit
(Sumber: http://www.ceramtechno.com/images/oil_palm_shell.jpg)


5. Serat
    Dari proses produksi akhir minyak kelapa sawit akan dihasilkan serat buah sawit. dalam satu hektar buah sawit yang dipanan akan menghasilkan serat pada proses akhirnya sebesar, 5,88 ton dan kalori yang dihasilkan sebesar 11,34 Kj/ton (Sumber: Enreach, 2011).


Gambar 6. Serat buah kelapa sawit
(Sumber: http://www.etawau.com/OilPalm/EFB/OilPalmFiber14.jpg)


6. Limbah pabrik kelapa sawit
    Proses pengolahan minyak kelapa sawit tidak terlepas dari limbah yang dihasilkan. Limbah yang dihasilkan bisa digunakan sebagai sumber energi biomassa yaitu pome. Limbah pome dapat menghasilkan biogas sebagai sumber energi.


Indonesia kaya akan perkebunan kelapa sawit sehingga potensi energi biomassa yang berasal dari kelapa sawit sangat menjanjikan. Apabila biomassa yang berasal dari residu yang dihasilkan dari produksi minyak kelapa sawit dapat dioptimalkan maka akan mengurangi penggunaan energi yang berasal dari bahan bakar fosil. Ini semua akan kembali kepada kebijakan dan tindakan nyata dari pemerintah yang mendukung secara penuh atau sebaliknya dalam mengembangkan energi terbarukan. semoga tulisan ini bermanfaat dan sekian terima kasih.








Share:

Design PLTS With Australian Standard

Dalam perancangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) perlu memperhatikan beberapa faktor-faktor dasar seperti menentukan intensitas cahaya matahari, menentukan jenis beban, menetukan daya nyata yang terpasang, mempertimbangkan pola hidup pemakaian listrik, menentukan kemiringan modul surya, menentukan efisinesi inverter rata-rata, design load energy, daya maksimum pada line DC, menentukan tegangan operasi DC, perkiraan arus DC pada beban maksimum, dan bulan disain . Setelah faktor-faktor dasar diketahui barulah bisa merancang sistem PLTS. Dibawah ini adalah urutan-urutan bagaimana merancang PLTS yang benar menggunakan Standard Autralia AS 4509.2-2002.

Gambar 1. Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Perancangan Awal PLTS
Perancangan awal PLTS secara umum memiliki 11 tahap, antara lain sebagai berikut :

1. Menentukan intensitas cahaya matahari
    Intensitas cahaya matahari merupakan sumber energi utama dalam pembangkit listrik tenaga surya. Intensitas cahaya matahri dapat diperoleh dari database Surface Meteorology and Solar Energy (SMSE) milik National Aeronautic and Space Administration (NASA, Amerika Serikat, menggunakan username dan Password khusus. Untuk mendapatkan data dari SMSE NASA siperlukan titik koordinat lokasi yang akan dipasang PLTS. Cara mudah untuk mendapatkan titik koordinat yaitu dengan menggunakan Google Eearth. Dibawah ini adalah salah satu contoh tabel intensitas cahaya matahari yang didapat dari SMSE NASA.


Gambar 1. Tabel intensitas cahaya matahari dari SMSE NASA

2. Menentukan Jenis Beban
    Jenis beban terdiri dari 2 jenis yaitu Beban AC dan Beban DC. Apabila jenis beban AC yang dipakai maka sistem PLTS memerlukan Inverter untuk mengkonversika arus listrik DC ke AC. Apabila jenis beban DC, maka tidak diperlukan lagi menggunakan inverter. Atau yang terakhir menggunakan dua jenis beban sekalian, dan ini sangat tergantung bagaimana proses intalasi pengkabelan nantinya. memang kalau memakai dua jenis beban proses instalasinya lebih sulit/banyak dari pada satu jenis beban.

3. Menentukan daya nyata yang terpasang atau yang akan dipasang
   setelah nilai intensitas cahaya matahari diketahui selanjutnya menentukan daya nyata dari beban yang terpasang atau daya beban yang akan dipasang. daya nyata ini dapat dilihat dari yang tertera pada perangkat elektronik yang mempunyai satuan dalam Watt (W). Semua daya nyata yang ada diperangkat elektronik untuk menentukan daya nyata total.

4. Menentukan atau mengetahui bagaimana pola hidup dalam pemakaian listrik
   pola hidup pemakian listrik sangat perlu diketahui karena ini menentukan kapasitas modul surya yang akan dipakai. salah satu contoh dalam menentukan pola hidup pemakian listrik adalah berapa lama pemakian televisi di rumah sehingga dapat menentukan energi yang terpakai oleh televisi dalam satu hari. Dan akhirnya akan didapat profil beban listrik dapat diketahui.

5. Sudut kemiringan modul Surya
    Peletakan sudut kemiringan modul surya ini sangat penting karena bertujuan untuk mengoptimalkan produksi energi yang dihasilkan modul surya. Sesuai dengan standard Australia AS 4509.2-2002 sudut kemiringan peletakan modul surya sama dengan derajat lintang lokasi (lintang selatan) pemasangan sistem PLTS. Kalau posisi teerlalu datar sehingga tidak mengoptimalkan pembersihan air hujan, sudut kemiringan ditetapkan standar sebesar 10 derajat lintang selatan.


 Gambar 1. Sudut kemiringan modul surya


6. Efisiensi inverter rata-rata
    efisiensi inverter rata-rata biasanya terdapt pada spesifikasi inverter, misalnya efisiensi inverter sebesar 85%.

7. Design load energy
    Design load energy adalah konsumsi energi rata-rata per hari pada rumah tangga. Design load energy ditentukan dengan membagi total energi perhari dengan efisiensi inferter

8. Daya maksimum pada line DC
    Dapat diketahui dari profil beban yang telah ditentukan sebelumnya. misalnya dari beban puncak diperoleh sebesar 362 Watt yang diakibatkan beberapa komponen elektronika yang dihidupkan pada waktu yang sama. Apabila beban memiliki dua jenis maka menentukan daya maksimum pada line DC menggunakan rumus dan rumus ini dapat dilihat di Standar Australia AS 4509.2-2002.

9. Tegangan Operasi DC
    Tegangan operasi DC adalah tegangan yang melewati line DC yang nilainya sama dengan tegangan baterai. Penentuan tegangan ini ditentukan oleh si perancang dan yang tersedia dipasaran misalnya 3 W, 6 W, 12 W, dan seterusnya.

10. Perkiraan arus DC pada beban maksimum
      Perkiraan arus DC pada beban maksimum adalah dimana beban puncak berbanding terbalik dengan tegangan operasi DC.

11. Bulan desain
      Penentuan bulai desain adalah menetukan nilai intensitas cahaya matahari yang digunakan untuk perancangan sistem PLTS. Misalnya kita menggunakan bulan desain di bulan yang mendapatkan cahaya matahari yang paling rendah yaitu sebesar 4,2 kWh/m2/hari.

Perancangan Sistem PLTS
Setelah perancangan awal PLTS di ketahui maka selanjutnya akan dilakukan perancangan sistem PLTS dengan menentukan spesifikasi alat-alat utama pendukung sistem PLTS. Penentuan spesifikasi sistem PLTS antara lain sebagai berikut :

1. Menetukan ukuran dan spesifikasi inverter
2. Menentukan ukuran dan spesifikasi baterai
3. Menentukan ukuran dan spesifikasi modul surya, dan
4. Menentukan ukuran dan spesifikasi Battery charge Regulator (BCR)

Untuk mengetahui secara detail untuk merancang sistem PLTS, Gunakan standar Autralia AS 4509.2-2002. Semoga hal ini membantu, Sekian dan terimakasih.


Share:

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)

Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) merupakan suatu teknologi yang memanfaatkan energi matahari untuk menghasilkan energi listrik. sistem PLTS terdiri dari energi matahari, modul surya, baterai charge regulator, baterai, inevrter dan beban. Modul surya terbuat dari bahan semikonduktor tipe n dan p, energi matahari yang jatuh di permukaan modul akan menggerakkan elektron-hole sehingga terjadi arus konstan DC. Dari modul surya arus listrik DC dialirkan melalui batteru charge regulator (BCR) yang berfungsi mengontrol pengisian baterai. arus listrik DC dari BCR dialirkan ke baterai untuk disimpan. Kemudian dari baterai arus listrik DC dialirkan ke Inverter untuk menjadi tegangan AC guna memenuhi beban AC atau langsung disuplai ke beban DC. Gambar 1 memperlihatkan blok diagram umum dari sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).




Gambar 1 Blok diagram sistem PLTS

1. Energi matahari
Energi matahari merupakan energi utama untuk mendukung sistem PLTS agar bisa menghasilkan energi listrik

2. Modul surya 
Sell surya berfungsi sebagi piranti semi konduktor yang merubah secara langsung energi matahari menjadi energi listrik searah (Direct  Current, DC).


Gambar 2. Modul surya
(Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/90/Solar_cell.png/220px-Solar_cell.png)
3. Battery Charge Regulator
BCR berfungsi sebagai pengontrol pengisian/charge baterai atau bisa dikatakan sebagai sistem proteksi bagi baterai yang bertujuan untuk menghindari baterai dari kerusakan. Prinsip kerja dari BCR adalah apabila baterai telah terisi penuh oleh muatan listrik, maka BCR akan memutuskan hubungan antara panel surya dengan baterai sehingga pengisian baterai berhenti. Sebaliknya, apabila muatan listrik yang ada pada baterai dibawah kondisi yang ditentukan, maka BCR akan menghubungkan solar panel dengan baterai dan mengisi baterai dengan muatan listrik.


Gambar 3 Battery Charge Regulator
(Sumber: http://zombiehunters.org/wiki/images/Charge_Controller.jpg)

4. Baterai
Baterai berfungsi sebagai penyimpan muatan listrik  yang berasal dari modul surya yang nantinya digunakan untuk mensuplai peralatan listrik sesuai dengan kebutuhan, atau diubah menjadi listrik AC oleh inverter.


Gambar 4. Baterai

5. Inverter
Inverter berfungsi sebagai pengubah tegangan DC (direct current) ke AC (Aalternative current). Dalam banyak aplikasi, inverter juga memperbesar tegangan input.


Gambar 5. Inverter
(Sumber: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwk80mtrppQaruAkVgRmKt_fjUY8l2bNQsBbI9mYKEkEIwtoLKI4UXp5nmlSrhFD_MUB57nGSO3V79IFDec8sqcfpNe_ylR2PlJIkVnnl8_YUbqcEnFlhb9AYYtcWdsCettHDmzl7d9Dc/s1600/2579527_gp-sw2000-sine-wave-power-inverter.jpg)

6. Beban
Beban merupakan implementasi dari sistem PLTS dan jenis beban disesuaikan dengan kebutuhan.
Share:

Pencemaran Udara di Riau


1. Pendahuluan
Pencemaran udara merupakan salah satu pencemaran lingkungan yang tidak bisa dihindari di negara-negara berkembang khususnya di Indonesia. Pencemaran udara bisa berasal dari Industri, Transportasi, Kebakaran hutan, dan lain-lain. meningkatnya pupulasi penduduk merupakan sumber utama pencemaran lingkungan. Semakin tinggi tingkat penduduk maka akan semakin tinggi permintaan produk, penggunaan transportasi,  dan lain-lain.
Sebagi contoh meningkatnya jumlah transportasi maka akan meningkatkan pula gas buang yang dihasilkan. Coba dibayangkan apa jadinya semakin tahun jumlah kendaraan terus melonjak naik!! tentu akan membahayakan lingkungan. Meningkatnya gas buang maka akan meningkatkan kosentrasi gas rumah kaca yang ada si atmosfer seperti CO2, CH4, N2O dan SF6. Sehingga dampak dari itu semua itu adalah pemanasan global (Global Warming). Dampak Global Warming telah kita rasakan saat sekarang ini dengan suhu yang terlalu panas, badai, banjir, dan lain-lain.
Gambar 1 memperlihatkan peningkatan suhu bumi dari tahun 1960 yaitu zaman revolusi industri sampai dengan tahun 2000.


Gambar 1. Peningkatan suhu global
(Sumber: http://planetseed.com/files/uploadedimages/Science/Earth_Science/Global_C
                                            limate_Change_and_Energy/global_temp3.jpg)
Riau merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mengalami pembangunan yang sangat pesat. mulai dari industri  (minyak bumi, Pulp and Paper, oil Palm), transportasi, dan perumahan. Sehingga Provinsi riau berpotensi mengalami pencemaran lingkungan apabila tidak di manage dengan baik. Pada artikel ini akan membahas pencemaran Udara dan bagaimana solusi untuk mengurangi pencemaran udara di Riau.

2. Pencemaran Udara di Riau
Transportasi
Transportasi di Riau terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Meningkatnya jumlah transportasi di Riau juga akan berdampak pada semakin besarnya gas buang yang dihasilkan. Pada tahun 2009 jumlah kendaraan di Riau mencapai 994.384 dan tahun 2010 jumlah kendaraan naik hingga mencapai 1.209.296 (riauterkini, 2011). Ini membuktikan bahwa pencemaran udara akan semakin bertambah setiap tahunnya.

Industri
Provonsi Riau memiliki beberapa industri besar yaitu industri Pulp and paper (PT RAPP), Minyak Bumi (PT Chevron, BOB PT BSP, dan lain-lain), dan Oil Palm. Limbah yang berasal dari industri-indusri tersebut bahaya bagi lingkungan khususnya udara apabila tidak dikelola dengan baik. Pencemaran udara yang diakibatkan industri berasal dari cerobong pembuangan, gas metan dari pengendapan limbah cair, dan lain-lain.
Banyak khasus pencemaran udara yang terjadi di riau salah satunya terjadi di daerah Dumai. Kantor Lingkungan Hidup (KLH) kota Dumai mengindikasikan telah terjadi pencemaran udara yang dilakukan oleh beberapa perusahaan seperti PT Wilmar group, PT Migas, Tempa perkasa dan Inti Benua yang beroperasi di kawasan Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Cabang dumai. Indikasi pencemaran udara terlihat dari beberapa cerobong yang mengeluarkan kepulan asap hitam milik perusahaan-perusahaan-perusahaan tersebut (riauterkini, 2011). Gambar 2 memperlihatkan salah satu Perusahaan di Dumai yang mengeluarkan asap pekat hitam dari cerobong pembuangannya.


Gambar 2. Industri pengolahan minyak bumi di Dumai yang mengeluarkan 
gumpalan asap hitam 
(Sumber: www.riauterkini.com/lingkungan.php?arr=40195)

Sampah Runah Tangga
Untuk sampah rumah tangga akan di fokuskan pada daerah perkotaan yaitu pekanbaru. kapasitas samapah di Pekanbaru mengalami peningkatan semenjak tiga tahun terakhir. Jika pada tiga tahun sebelumnya produksi sampah di Pekanbaru hanya mencapai sekitar 17 ton pe harinya, maka saat ini produksi sampah sudah mencapai 30 ton per harinya (riauterkini, 2011). Namun disayangkan kondisi tersebut tidak ditunjang dengan fasilitas dan kondisi yang memadai. Sehingga banyak sampah yang masih menumpuk di jalan-jalan  karena kapasitas TPS yang belum memadai. Dari tumpukan sampah-sampah baik dijalan-jalan maupun di TPS yang belum bisa dikelola menyebabkan bau yang sangat menyengat dan menghasilkan gas metan yang dilepaskan ke udara yang mengakibatkan pencemaran udara.

Kebakaran Hutan
Kebakaran hutan merupakan masalah yang sering dialami di Provonsi Riau. Periode 01-13 September 2011 titik api di Riau mencapai 583 titik (gurindam12, 2011). Gambar 3 memperlihatkan peta lokasi kebakaran hutan termasuk kebakaran di lahan gambut.


Gambar 3. Peta sebaran titik api di kawasan di Riau
(Sumber: http://www.gurindam12.com/2011/09/fantastis-riau-583-titik-api-
periode-01.html)

Pembakaran hutan baik disengaja atau tidak secara langsung telah menyebabkan pencemaran udara dan kondisi ini makin memburuk dengan terbakarnya di kawasan hutan gambut yang berfungsi untuk keseimbangan iklim global dimana hutan gambut merupakan tempat penyimpanan atau penyerapan gas karbondioksia di Riau. 

Sehingga dari permasalahan diatas, pencemaran udara di Riau sungguh memeprihatinkan dan harus segera ditangani. Pemerintah, Industri, dan masyarakat berperan penting dalam mewujudkan lingkungan yang berkualitas/bersih.

3. Solusi
Menangani pencemaran udara di Riau diperlukan kesadaran dari semua pihak baik pihak pemerintah, industri, maupun masyarakat itu sendiri. Kesadaran akan dampak lingkungan yang diakibat pencemaran udara maka akan mempermudah jalan selanjutnya dalam mengurangi pencemaran udara.
Pemerintah pusat dan daerah harus menunjukkan keseriusan dalam mengurangi pencemaran udara yang terjadi. Hal ini dapat dilihat apabila perturan-peraturan pemerintah mengenai pelestarian lingkungan didukung penuh oleh pemerintah daerah melalui peraturan-peraturan daerah. dan selanjutnya harus ada tindakan nyata sebagai aplikasi dari peraturan-peraturan yang di buat. 
Pihak industri harus mematuhi peraturan yang ada misalnya dengan cara menerapkan teknologi bersih. Sehingga limbah-limbah dari industri bisa dikelola dengan teknologi tersebut sampai tidak membahayakan lagi bagi lingkungan.
Pemerintah harus memberikan fasilitas yang cukup dalam pengolahan sampah rumah tangga. misalnya dengan memberikan tempat sampah pilah yaitu tempat sampah organik dan anorganik, dan memberikan fasilitas pengolahan sampah yang cukup di TPA.

4. Kesimpulan
Pencemaran udara yang terjadi di Riau bisa membahayakan lingkungan hidup apabila tidak ditangani sejak dini. Melalui peraturan pemerintah pusat maupun daerah yang mendukung pelestarian lingkungan akan beradampak besar dalam mengurangi pencemaran udara yang diakibatkan transportasi, industri dan sampah rumah tangga. Tentunya semua itu akan terwujud dengan adanya tindakan nyata sebagai wujud aplikasi dari peraturan-peraturan tersebut.
selain itu pihak yang bersangkutan  seperti industri harus mematuhi peraturan yang ada, misalnya menerapakan teknologi produksi bersih, dan lain-lain. sekian dan terimakasih!!!

Share:

Alasan Harus Melirik energi terbarukan

Krisis energi yang dirasakan pada saat sekarang ini merupakan masalah yang fundamental di Indonesia. sebagaimana yang telah kita ketahui energi penggerak utama pada era modern dalah energi bahan bakar fosil. Mulai dari sektor industri, pertanian, perumahan, perikanan, dan lain-lain menggunakan energi dari bahan bakar fosil sebagai penggerak utamanya. Bahan bakar fosil tergolong kedalam energi tak terbarukan (non-renewable) sehingga semakin lama digunakan maka energi ini akan habis. Sebagai bukti menurunnya produksi beberapa bahan bakar fosil, maka dapat dilihat grafik produksi bahan bakar fosil di Indonesia dibawah ini.



Produksi bahan bakar fosil di Indonesia
(Sumber : www.menlh.go.id/slhi/slhi2008/7_energi.pdf)


Penggunaan bahan bakar fosil akan terus meningkat seiring terus berkembangnya populasi manusia. Besarnya populasi penduduk dapat dilihat pada grafik dibawah ini yang diprediksi hingga tahun 2025.


Populasi di Indonesia
(Sumber : PEUI, 2006)

Menurut badan International Energy Agency(IEA) sektor yang paling banyak menggunakan energi bahan bakar fosil di Indonesia adalah sektor perumahan. Hal ini dapat diligat pada gambar dibawah ini.



Total pemakaian energi bahan bakar fosil di Indonesia
(Sumber : IEA, 2010)

Dengan melihat total pemakaian energi bahan bakar fosil diatas, maka disimpulkan bahwa di Indonesia perlu dibenahi terlebih dahulu pemekaian energi di sektor perumahan.

Dari data-data diatas, apakah tidak cukup "Alasan harus melirik energi terbarukan"? di Indonesia sangat berpotensi untuk mengembangkan energi terbarukan hal ini dapat dilihat potensi energi matahari, biomass, angin, dan panas bumi di Indonesia sangat menjanjikan. sekian dan terima kasih.






Share:

Laboratorium Elektronika-UIN SUSKA

Laboratorium yang lengkap dan modern merupakan dambaan setiap Universitas dan Mahasiswanya, apalagi ,,,,,"mahasiswa sering terlibat didalam laboratorium tersebut". UIN SUSKA-Riau dimana tempat saya kuliah telah memiliki fasilitas laboratorium yang modern, hampir semua peralatan pratikum yang berupa alat ukur mengadopsi teknologi digital. semua jenis pratikum khusus prodi elektronika sudah bisa dikatakan lengkap mulai dari pratikum Elektronika Daya, Teknik Tenaga Listrik, Elektronika Lanjut, Instrumentasi Industri, Mikrokontroler, dan PLC.



Kondisi Labor Elektronika




Alat Pratikum Programmable Logic Controller (PLC)


me and Alat pratikum Sistem Kendali


Alat Pratikum Teknik Tenaga Listrik


ups!!! sory me again and alat pratikum Instrmentasi Industri


Mantapkan!!!! apalagi kalau alat-alat pratikum diapakai oleh mahasiswa secara maksimal yang nantinya diharapkan memunculkan generasi mahasiswa yang handal dibidang elektronika,,,amin. sekian dan terima kasih






Share:

Waw,,,,ada energi terbarukan di Kec, Sungai Lala-INHU

Ketika saya melakukan penelitian di Desa Kuala Lala Kec. Sungai Lala dalam rangka penyelesaian Tugas Akhir yang berjudul "Konsep Rumah Mnadiri Energi Menggunakan Tenaga Surya dan Biogas", saya mendapat info menarik bahwa ada salah satu desa yang telah memanfaatkan energi terbarukan yang letaknya tidak jauh dari desa yang saya teliti. Pada saat itu saya belum kepikiran untuk melihatnya secara langsung. Setelah saya kembali ke Pekanbaru untuk melanjutkan penulisan skripsi dan ketika melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing yaitu pak Kunaifi PgDipEnSt, M.Sc dengan mengejutkan Pak Kun (sapaan akrabnya) meminta saya melakukan peninjauan ke Desa yang sudah menerapkan teknologi Biogas digester supaya saya lebih memahami dan mudah dalam menyelesaikan Tugas akhir khususnya mengenai perancangan biogas digester. hmmmmm..dalam hati saya berkata "kenapa ya kemaren nggak langsung saja saya melihat desa yang sudah menerapkan teknologi biogas digester....nasib,,,nasib,,apesdeh"hehehehe,,,tapi dengan memodalkan semangat untuk menyelesaikan Tugas Akhir, saya kembali lagi menuju desa tersebut.
Ketika saya sampai di desa yang telah menerapkan teknologi Biogas Digester dengan ditemani pegawai Kec. Sungai Lala dan dua orang satpol PP, kami langsung disambut baik oleh salahs atu warga yang mempunyai teknologi biogas digester yang namanya saya lupa,,,hehehhe,,maklum penyakit manusia yang tidak terlepas lupa dan khilaf. setelah melakukan tanya jawab saya lansung menuju ke digester biogas. pada gambar 1 dapat dilihat bentuk digester biogas yang ada pada salah satu Desa di Kec. Sungai Lala.


Gambar 1 Digester Biogas di Desa Kebun Tujuh


Besar digester diatas adalah 5,2 meter kubik. Dengan kapsitas digeter tersebut dapat memenuhi kebutuhan memasak selama 8 jam per hari. Bila dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan minyak tanah dan gas elpiji tentunya biaya sistem biogas digester jauh lebih murah karena; bahan baku biogas gratis dari ternak sendiri, tidak perlu perawatan khusus, dan umur biogas digester kurang lebih 20 tahun. ketika saya menuju ke kompor biogasnya ,,,wwaaaaaaaawww,,,alangkah terkejutnya bahwa kompor yang yang digunakan adalah kompor gas elpiji dan nyala apinya pun tidak kalah birunya dari gas elpiji. hal ini dapat dilihat pada gambar 2 di bawah ini.


Gambar 2 Kompor biogas digester

Mahal dan langkanya minyak tanah tidak membuat warga Kec. Sungai Lala ilang akal. Dengan melihat kreatifitas warga maka hal ini patut di contoh oleh desa-desa lain bahkan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah untuk menggalakkkan teknologi biogas digester ini.


me n pemilik biogas digester


waw,,,, pengalaman yang mengasikkan,,,Thank's







Share:

Mengenai Saya

Foto saya
Kerinci, Riau, Indonesia
Energi merupakan kebutuhan yang sangat penting di segala aspek kehidupan. mulai dari industri, transportasi,prumahan, dan lain-lain membutuhkan energi. energi yang dominan digunakan sekarang adalah energi bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil tergolong energi tak terbarukan sehingga semakin lama digunakan maka energi ini akan habis. mari kita pikirkan bagaimana energi terbarukan (renewable) dapat dioptimalkan penggunannya untuk saat sekarang ini.

Total Tayangan Halaman

Like and Share